
Pekanbaru: Luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau telah mencapai 1.041,74 hektare sejak awal tahun 2026, dengan Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah terdampak paling parah dan memicu upaya modifikasi cuaca.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemadam Kebakaran Provinsi Riau melaporkan total luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mencapai 1.041,74 hektare sejak awal tahun 2026. Data ini menunjukkan peningkatan signifikan kejadian Karhutla di wilayah tersebut. Pihak berwenang terus berupaya mengendalikan situasi di lapangan.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Riau, Jim Gafur, menyatakan bahwa Kabupaten Pelalawan mencatatkan angka kebakaran tertinggi dibandingkan wilayah lainnya di Riau. Laporan ini berdasarkan data terkini hingga Kamis (19/2), yang dirilis pada Sabtu (21/2). Situasi ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait.
Sebaran Karhutla Riau terjadi di berbagai kabupaten dan kota, namun Pelalawan mendominasi lebih dari 50 persen total luasan yang terbakar. Upaya pemadaman dan pendinginan terus dilakukan oleh tim gabungan di darat maupun udara. Pemerintah juga telah mengerahkan pesawat untuk modifikasi cuaca guna membantu penanganan bencana ini.
Dari total luasan 1.041,74 hektare Karhutla Riau, Kabupaten Pelalawan menyumbang angka terbesar dengan 612,30 hektare. Angka ini jauh melampaui wilayah lain, menunjukkan kerentanan Pelalawan terhadap bencana kebakaran. Kondisi geografis dan jenis lahan di Pelalawan mungkin menjadi faktor penyebab dominasi ini.
Selain Pelalawan, beberapa wilayah lain juga mengalami Karhutla dengan luasan signifikan. Kabupaten Bengkalis mencatat 201,01 hektare, Inderagiri Hilir 64,70 hektare, dan Siak 63,53 hektare. Sementara itu, Dumai dan Kampar masing-masing terdampak 30,52 hektare dan 29,50 hektare.
Kota Pekanbaru juga tidak luput dari Karhutla dengan 14,08 hektare lahan terbakar, diikuti oleh Kabupaten Kepulauan Meranti (13,14 ha) dan Rokan Hilir (10 ha). Kabupaten Kuantan Singingi dan Indragiri Hulu masing-masing mencatat 1,5 hektare dan 1,2 hektare. Hanya Kabupaten Rokan Hulu yang dilaporkan masih nihil dari kejadian Karhutla.
Deteksi Ribuan Titik Panas dan Titik Api di Riau
Selama tahun 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mendeteksi sebanyak 1.849 titik panas di wilayah Riau. Angka ini mengindikasikan potensi kebakaran yang sangat tinggi di berbagai lokasi. Pemantauan titik panas menjadi krusial untuk pencegahan dini Karhutla.
Dari ribuan titik panas tersebut, 128 di antaranya telah terkonfirmasi sebagai titik api. Keberadaan titik api menunjukkan adanya kebakaran aktif yang memerlukan respons cepat dari tim penanggulangan. Data ini menjadi dasar bagi BPBD Riau untuk memprioritaskan area penanganan.
Peningkatan jumlah titik panas dan titik api ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah. Kondisi cuaca yang kering dan aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkontrol seringkali menjadi pemicu utama. Edukasi kepada masyarakat tentang bahaya pembakaran lahan terus digalakkan.
Upaya Pemadaman dan Modifikasi Cuaca Hadapi Karhutla
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD Riau, TNI, Polri, dan Manggala Agni terus melakukan upaya pemadaman dan pendinginan di lapangan. Mereka bekerja keras baik melalui jalur darat maupun udara untuk mengendalikan api. Penanganan Karhutla memerlukan koordinasi yang solid antarlembaga.
Selain pemadaman langsung, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah mengerahkan pesawat untuk operasi modifikasi cuaca. Sebanyak 6 ton garam (NaCl) telah disemai di langit Riau dalam empat sortie penerbangan. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) ini bertujuan untuk memicu turunnya hujan.
Operasi TMC difokuskan pada wilayah Pelalawan, Bengkalis, dan Rokan Hilir yang merupakan daerah dengan tingkat Karhutla tinggi. Diharapkan, upaya modifikasi cuaca ini dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi potensi penyebaran api. Sinergi antara pemadaman darat dan udara sangat penting dalam mitigasi bencana ini.
Berikut luasan kalhutla di wilayah Provinsi Riau:
Kabupaten Pelalawan: 612,30 ha
Kabupaten Bengkalis: 201,01 ha
Kabupaten Inderagiri Hilir: 64,70 ha
Kabupaten Siak: 63,53 ha
Kota Dumai: 30,52 ha
Kabupaten Kampar: 29,50 ha
Kota Pekanbaru: 14,08 ha
Kabupaten Kepulauan Meranti: 13,14 ha
Kabupaten Rokan Hilir: 10 ha
Kabupaten Kuantan Singingi: 1,5 ha
Kabupaten Indragiri Hulu: 1,2 ha
Kabupaten Rokan Hulu: Nihil
Sumber: Antara

