Satu Kesalahan, Seribu Keraguan: Mengapa Kita Takut Berbicara Bahasa Inggris

Pendidikan Uncategorized
Mutia Peorita Hisra, S.Pd, Mahasiswa Magister Tadris Bahasa Inggris UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi (Dok. Red)

Bukittinggi: Pernahkah kita mengetahui jawaban sebuah pertanyaan, tetapi memilih diam karena takut salah mengucapkannya dalam bahasa Inggris? Kita mungkin sudah menyusun kalimat di dalam pikiran, mengetahui kosakata yang ingin digunakan, bahkan memahami maksud pertanyaannya . Namun, ketika mendapat kesempatan berbicara, tiba-tiba muncul kekhawatiran: bagaimana jika pengucapannya salah, tata bahasanya keliru, atau teman-teman menertawakan kita?

Situasi seperti ini layak menjadi perhatian dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia. Tidak semua pelajar yang diam berarti tidak memahami materi. Ada yang sedang berusaha menyusun kalimat, ada yang belum percaya diri, dan ada pula yang takut dinilai karena kemampuan bahasanya belum sempurna.

Menurut saya, pembelajaran bahasa Inggris seharusnya tidak hanya membantu pelajar memahami kosakata dan tata bahasa, tetapi juga memberikan keberanian untuk menggunakannya. Sebab, bahasa adalah alat komunikasi. Jika seseorang terus-menerus takut berbicara, pengetahuan yang dimilikinya belum tentu dapat berkembang menjadi kemampuan berkomunikasi yang baik.

Ketika Kesalahan Menjadi Sesuatu yang Menakutkan

Dalam kegiatan pembelajaran, kesalahan sebenarnya merupakan bagian yang wajar dari proses belajar. Seseorang yang baru mempelajari bahasa Inggris tentu belum langsung mampu menyusun kalimat dengan tepat atau berbicara selancar penutur yang sudah berpengalaman. Namun, persoalan muncul ketika kesalahan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.

Seorang siswa, misalnya, mungkin memahami materi simple present tense, tetapi merasa gugup ketika diminta menjawab pertanyaan dalam bahasa Inggris. Ia takut salah menggunakan kata kerja atau mendapatkan respons yang kurang menyenangkan dari teman-temannya. Akhirnya, ia memilih diam meskipun sebenarnya memiliki kesempatan untuk mencoba. Kondisi tersebut dikenal dalam kajian pemerolehan bahasa kedua sebagai foreign language anxiety atau kecemasan dalam pembelajaran bahasa asing. Horwitz, Horwitz, dan Cope (1986) menjelaskan bahwa kecemasan ini berkaitan dengan perasaan tegang dan khawatir ketika seseorang harus belajar atau menggunakan bahasa asing.

Dari sudut pandang pendidikan, keadaan ini menunjukkan bahwa keberhasilan belajar tidak cukup dinilai hanya dari hasil ujian tertulis. Pelajar juga membutuhkan ruang untuk berlatih, menyampaikan pendapat, dan memperbaiki kesalahan tanpa merasa direndahkan.

Kita perlu bertanya kembali: apakah kelas bahasa Inggris sudah menjadi tempat yang aman untuk mencoba, atau justru menjadi tempat yang membuat siswa semakin takut melakukan kesalahan?

Pertanyaan ini penting karena suasana belajar tidak hanya dibentuk oleh guru, tetapi juga oleh teman sebaya. Satu komentar yang merendahkan dapat membuat seseorang kehilangan keberanian. Sebaliknya, tanggapan yang mendukung dapat membuatnya berani mencoba lagi.

Kecemasan Dapat Menghambat Kesempatan Belajar

Stephen Krashen (1982), melalui Affective Filter Hypothesis, menjelaskan bahwa faktor afektif, seperti kecemasan, motivasi, dan kepercayaan diri, berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa kedua. Secara sederhana, pelajar membutuhkan masukan bahasa yang dapat dipahami. Namun, kondisi emosional yang kurang mendukung dapat menjadi salah satu hambatan dalam memanfaatkan masukan tersebut.

Teori ini membantu kita memahami mengapa pelajar yang sebenarnya telah mempelajari banyak kosakata masih bisa kesulitan berbicara dalam situasi tertentu. Ketika perhatian terlalu banyak tersita oleh rasa takut, mereka dapat kesulitan berkonsentrasi pada pesan yang ingin disampaikan.

Meski demikian, kecemasan bukan satu-satunya penyebab seseorang kesulitan berbicara. Penguasaan kosakata, kesempatan berlatih, metode pengajaran, dan pengalaman menggunakan bahasa juga berperan. Karena itu, pelajar yang belum lancar tidak seharusnya langsung dianggap kurang mampu atau kurang berusaha.

Penelitian Diep dan rekan-rekan (2022) terhadap pelajar bahasa Inggris di Indonesia memberikan gambaran yang menarik. Penelitian tersebut membandingkan pembelajaran berbasis budaya dengan pembelajaran yang tidak menggunakan pendekatan budaya. Kelompok yang mengikuti pembelajaran berbasis budaya memperoleh hasil pascates keterampilan berbicara dan kecemasan bahasa yang lebih baik daripada kelompok pembanding.

Temuan ini bukan berarti pendekatan berbasis budaya pasti berhasil untuk setiap pelajar. Namun, hasilnya memberikan alasan untuk mempertimbangkan penggunaan materi yang dekat dengan kehidupan siswa. Guru dapat mengajak siswa membicarakan makanan daerah, tradisi setempat, kegiatan sekolah, atau pengalaman sehari-hari dalam bahasa Inggris.

Ketika topiknya dikenal, siswa memiliki sesuatu untuk disampaikan. Mereka tidak harus memikirkan isi pembicaraan dan bahasa asing dari titik awal secara bersamaan. Dengan begitu, latihan berbicara dapat terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Belajar dengan Semangat dan Nilai-Nilai Islam

Dalam perspektif Islam, menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar. Al-Qur’an dalam Surah Al-Insyirah ayat 5–6 mengingatkan bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Pesan tersebut dapat menjadi penguat bagi siapa pun yang sedang menghadapi proses belajar yang tidak mudah.

Ayat tersebut memang tidak secara khusus membahas pembelajaran bahasa Inggris. Namun, nilai optimisme yang terkandung di dalamnya relevan untuk mengingatkan kita agar tidak langsung menyerah ketika menemui kesulitan. Belajar bahasa membutuhkan proses. Ada kosakata yang harus diingat, pengucapan yang perlu dilatih, dan kesalahan yang perlu diperbaiki.

Menurut saya, nilai agama juga dapat diterapkan melalui cara kita memperlakukan orang lain ketika belajar. Jika seorang teman salah mengucapkan kata dalam bahasa Inggris, respons yang dibutuhkan bukanlah ejekan, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Saling menghargai merupakan bagian penting dari lingkungan belajar yang baik.

Semangat belajar seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih rendah hanya karena kemampuan bahasa Inggrisnya belum sebaik orang lain. Sebaliknya, setiap orang perlu memahami bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan dan pengalaman. Nilai ketekunan dalam Islam dapat berjalan berdampingan dengan pendekatan ilmiah dalam pendidikan: keduanya mengingatkan bahwa proses belajar membutuhkan usaha yang berkelanjutan.

Tentu saja, nilai agama tidak menggantikan teori atau penelitian tentang pemerolehan bahasa. Keduanya memiliki peran berbeda. Penelitian membantu menjelaskan persoalan pembelajaran, sedangkan nilai agama dapat menjadi sumber refleksi moral dan motivasi dalam menjalani proses tersebut.

Kelas yang Memberi Ruang untuk Mencoba

Mengurangi kecemasan berbicara bahasa Inggris bukan berarti guru harus membiarkan semua kesalahan tanpa koreksi. Pelajar tetap membutuhkan masukan agar kemampuan bahasanya berkembang. Yang perlu diperhatikan adalah cara memberikan koreksi dan suasana ketika proses itu berlangsung.

Guru dapat memulai latihan dengan meminta siswa berbicara secara berpasangan sebelum tampil di depan kelas. Setelah lebih terbiasa, siswa dapat melanjutkan latihan dalam kelompok kecil. Cara bertahap ini memberi kesempatan kepada pelajar untuk membangun kepercayaan diri.

Ketika siswa melakukan kesalahan, guru dapat memberikan contoh kalimat yang benar tanpa mempermalukannya. Misalnya, jika siswa mengatakan “She go to school every day”, guru dapat merespons, “Good. She goes to school every day.” Siswa tetap mendapat contoh yang tepat, tetapi tidak harus merasa direndahkan di depan teman-temannya.

Guru juga dapat menyeimbangkan penilaian terhadap kelancaran dan ketepatan bahasa. Pada tahap latihan awal, keberanian menyampaikan pesan perlu dihargai, kemudian diikuti dengan perbaikan tata bahasa dan pengucapan. Dengan cara ini, siswa memahami bahwa belajar berbicara bukan hanya tentang menghasilkan kalimat sempurna, melainkan juga menyampaikan makna.

Di sisi lain, pelajar dapat memulai dari langkah sederhana. Mereka bisa berlatih memperkenalkan diri, menceritakan kegiatan sehari-hari, merekam suara sendiri, atau berbicara selama satu menit menggunakan kosakata yang sudah dikuasai. Tidak perlu menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk mulai mencoba.

Berani Mencoba, Bersedia Memperbaiki

Menurut saya, salah satu hal yang perlu diubah dalam pembelajaran bahasa Inggris adalah anggapan bahwa kesalahan selalu menunjukkan ketidakmampuan. Kesalahan memang perlu diperbaiki, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk membungkam keberanian seseorang.

Guru perlu menciptakan suasana yang mendukung. Teman sebaya perlu belajar menghargai proses orang lain. Sementara itu, pelajar perlu memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk berkembang secara bertahap.

Bagi pelajar Muslim, nilai ketekunan dan optimisme dapat menjadi penguat dalam menghadapi kesulitan belajar. Namun, semangat saja tidak cukup tanpa latihan, umpan balik yang baik, dan kesempatan menggunakan bahasa secara nyata.

Pada akhirnya, keberhasilan belajar bahasa Inggris bukan berarti seseorang tidak pernah salah. Keberhasilan juga terlihat ketika pelajar yang sebelumnya memilih diam mulai berani mengucapkan satu kalimat, lalu mencoba kalimat berikutnya. Perkembangan kecil seperti itu layak dihargai karena dari keberanian untuk mencoba, proses belajar memperoleh ruang untuk tumbuh.

Bahasa tidak akan berkembang hanya dengan dipikirkan. Bahasa perlu digunakan, dilatih, dan diperbaiki. Karena itu, jangan sampai ketakutan melakukan kesalahan justru membuat pelajar kehilangan kesempatan untuk belajar. Kita tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai berbicara; kita perlu mulai berbicara agar dapat terus belajar.

Penulis: Mutia Peorita Hisra, S.Pd

Mahasiswa Magister Tadris Bahasa Inggris UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Sumber Referensi:

Diep, L. T. N., Zainal, A. G., Hassan, I., Sunarti, Al-Sudani, A. Q. A. S., & Assefa, Y. (2022). Cultural familiarity, foreign language speaking skill, and foreign language anxiety: The case of Indonesian EFL learners. Education Research International, 2022, Article 3910411. https://doi.org/10.1155/2022/3910411

Horwitz, E. K., Horwitz, M. B., & Cope, J. (1986). Foreign language classroom anxiety. The Modern Language Journal, 70(2), 125–132. https://doi.org/10.1111/j.1540-4781.1986.tb05256.x

Krashen, S. D. (1982). Principles and practice in second language acquisition. Pergamon Press. https://www.sdkrashen.com/content/books/principles_and_practice.pdf

Al-Qur’an. Surah Al-Insyirah [94]: 5–6.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *