Sidang Memanas! Abdul Wahid vs SF Hariyanto Sebut Nama UAS dan Kapolda Riau

Ekonomi Hukum Peristiwa Uncategorized
Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi Abdul Wahid sebagai Gubernur Riau Nonaktif di Pengadilan Negeri Pekanbaru (3/6/2026)

Pekanbaru: Sidang pemeriksaan dua orang saksi, SF Hariyanto sebagai Plt Gubernur Riau dan Marjani sebagai tersangka sekaligus mantan ajudan terdakwa Abdul Wahid kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Rabu, 3 Juni 2026.

SF Hariyanto diperiksa secara intensif dengan berbagai pertanyaan baik dari JPU Komisi Pemberantasan Korupsi dan pihak kuasa hukum mantan Gubernur Riau non aktif, Abdul Wahid.

Usai kedua pihak memberikan kesaksian, Abdul Wahid diberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada SF Hariyanto.

Dalam komunikasi itu terungkap kalau hubungan politik kedua pimpinan tersebut retak hingga melibatkan dai kondang, Ustad Abdul Somad.

Dalam persidangan, Abdul Wahid yang mendapat kesempatan mengajukan pertanyaan kepada saksi SF Hariyanto, justru menggali sejumlah peristiwa yang menggambarkan renggangnya hubungan keduanya sejak kontestasi Pilgub Riau hingga pasca pelantikan.

Abdul Wahid memulai pertanyaannya dengan mengungkit proses pencalonan mereka pada Pilgub Riau. Ia mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi calon gubernur.

“Saya mau bertanya, waktu mencalonkan diri sebagai gubernur dan wakil gubernur, apakah saya meminta jadi gubernur?” tanya Abdul Wahid.

Sempat dipertanyakan relevansinya dalam persidangan, majelis hakim kemudian mempersilakan saksi menjawab.

Menanggapi hal itu, SF Hariyanto mengaku awalnya tidak berniat maju sebagai calon gubernur karena menghormati atasannya saat itu, Syamsuar.

“Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya,” ujar SF.

Namun, menurut SF, situasi politik berubah di tengah perjalanan.

“Di tengah perjalanan Pak Syamsuar maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju. Ya majulah,” kata SF.

Pernyataan itu langsung disambut Abdul Wahid yang mengingat kembali kesepakatan mereka saat itu.

“Bapak maju dan saya wakil,” ujar Abdul Wahid yang kemudian dibenarkan oleh saksi.

Percakapan tersebut membuka fakta bahwa hubungan keduanya pernah berada dalam posisi yang sangat dekat dan saling mendukung dalam perjalanan politik menuju kursi pemerintahan Provinsi Riau.

Namun suasana persidangan mulai memanas ketika Abdul Wahid menyinggung perubahan sikap yang ia rasakan setelah mereka menduduki jabatan masing-masing.

“Setelah perjalanan soal gubernur satu dan gubernur dua, bapak enggan dipanggil wakil,” kata Abdul Wahid.

Ia bahkan menyebut dirinya selama ini telah merasakan berbagai posisi jabatan dan menilai sikap SF sebagai bentuk kebesaran hati.

“Semua sudah saya rasakan. Mulia hati bapak,” ujar Abdul Wahid.

Namun SF menanggapinya singkat.

“Biasa saja, Pak,” jawabnya.

Ketegangan semakin terlihat ketika Abdul Wahid mengungkit sebuah pertemuan pada bulan Ramadan setelah pelantikan. Dalam keterangannya, Abdul Wahid mengaku masih mengingat keinginan SF untuk bertemu dengannya.

Menurut Abdul Wahid, dalam komunikasi melalui telepon saat itu sempat terjadi pembicaraan mengenai siapa yang akan datang terlebih dahulu untuk bertemu.

Di bagian lain, Abdul Wahid juga menyinggung dugaan adanya rekaman pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diperlihatkan kepada sejumlah pihak.

“Saya kaget kok rekaman pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang. Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada,” ujar Abdul Wahid menirukan informasi yang ia dengar.

Namun tudingan tersebut langsung dibantah tegas oleh SF Hariyanto.

“Tidak benar saya ucapkan itu,” jawab SF.

Abdul Wahid kembali melanjutkan dengan menanyakan apakah SF pernah mengeluarkan pernyataan bernada ancaman.

“Bahwa ketua betul tidak, ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?” tanya Abdul Wahid.

“Tidak pernah,” jawab SF singkat.

Persidangan semakin menarik ketika Abdul Wahid menyinggung upaya perdamaian yang pernah dilakukan oleh Kapolda Riau terhadap keduanya.

Ia mempertanyakan beberapa peristiwa yang menurutnya menunjukkan adanya hubungan baik di masa lalu, termasuk dugaan permintaan maaf dan gestur penghormatan yang dilakukan SF kepadanya.

Namun pernyataan itu kembali dibantah keras oleh saksi.

“Siapa bapak kiranya?” kata SF.

Saat Abdul Wahid kembali mengungkit pertemuan yang difasilitasi Kapolda dan foto kebersamaan mereka yang sempat beredar luas, SF tetap pada pendiriannya.

“Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya,” tegasnya.

Momen tersebut membuat suasana ruang sidang menjadi tegang. Keduanya tampak saling mempertahankan versinya masing-masing terkait hubungan yang pernah terjalin dekat namun kemudian memburuk.

Abdul Wahid juga mempertanyakan pernyataan SF yang menyebut dirinya tidak pernah diberi tugas selama berada dalam pemerintahan.

Menurut Abdul Wahid, sejumlah tugas pernah diberikan dan dapat dikonfirmasi kepada pejabat lain.

“Pernah saya kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, Abdul Wahid mengungkit momen ketika SF datang bersamanya didampingi Kapolda dan meminta izin untuk berobat.

“Saya kasih izin dan baik, akrab kepada SF. Mengapa bapak marah, merasa saya tidak memerankan dan tidak melibatkan bapak?” tanya Abdul Wahid.

Namun jawaban SF kembali menunjukkan adanya kekecewaan yang selama ini tersimpan.

“Bapak saja yang jawab diri sendiri. Disposisi surat tak pernah, diajak eselon empat tak pernah. Kenapa tanya kepada saya,” jawab SF.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu bagian paling penting dalam persidangan karena menggambarkan akar persoalan yang diduga membuat hubungan keduanya memburuk selama menjalankan roda pemerintahan.

Abdul Wahid kemudian menyinggung isu lain yang sempat berkembang di lingkungan birokrasi Riau, yakni dugaan permintaan agar posisi Sekretaris Daerah diisi oleh orang tertentu melalui pendekatan kepada Ustaz Abdul Somad (UAS).

“Pernah bapak menyampaikan ke UAS dan menginginkan sekda harus orang bapak?” tanya Abdul Wahid.

SF kembali membantah tuduhan tersebut.

“Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama. Tolong perbaiki kami. Jangan saya dipelesetkan,” jawabnya.

Di penghujung pertanyaan, Abdul Wahid mencoba memastikan apakah berbagai persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF terhadap dirinya.

“Atas dasar itu bapak marah sama saya?” tanya Abdul Wahid.

“Bukan alasan saya itu,” jawab SF.

Ia juga menegaskan bahwa kebijakan demosi pejabat yang sempat menjadi polemik bukan berasal dari dirinya.

“Soal demosi bukan soal dari saya karena tim pansel,” kata SF.

Persidangan yang seharusnya berfokus pada perkara korupsi itu akhirnya turut membuka tabir hubungan dua tokoh penting di Provinsi Riau. 

Dari rekan seperjuangan dalam kontestasi politik hingga menjadi pasangan pemimpin daerah, persidangan tersebut memperlihatkan adanya luka politik dan persoalan komunikasi yang tampaknya belum sepenuhnya selesai di antara Abdul Wahid dan SF Hariyanto.

Saling bantah, saling mengingatkan masa lalu, hingga mengungkap rasa kecewa yang terpendam, menjadi warna tersendiri dalam jalannya persidangan yang berlangsung di hadapan majelis hakim dan pengunjung sidang.***(Red/bhs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *